Showing posts with label Nukilan. Show all posts
Showing posts with label Nukilan. Show all posts

Sunday, 11 March 2018

BARACUDA SI RAJA AIR

BARACUDA SI RAJA AIR
Daud Ahmad

Sekalung tahniah....
Dalam membina sata pasukan
Dalam bersama mencari kemenangan
Bergelar juara memang impian
Kerjasama yang utuh pita pengukur

Baracuda si raja air
Batang rimbas jadi saksi
Batang lupar tertunai janji
Jiwa mereka bersama si juara

Baracuda si raja air
Namamu terjulang
Tiga musim berturut di Pesta Bungin
Reggata Pusa tetap juara..
Banggalah...
Anda memburu kejuaraan
Dalam jiwa satu pasukan
Sukar dicari semangat yang jitu

Baracuda si raja air
Akan menjadi....
Acuan semangat pada yang lain
Si jerung putih masih mengejar
Si wali tak akan berdiam diri
Membara dendam darah muda
Itulah saudara dalam perjuangan

Baracuda si raja air
Berpesanlah pada diri
Berpesanlah pada pasukan
Diam mereka itu...
Di dalamnya......terselit rasa cemburu

Baracuda si raja air
Kocaklah setiap sungai
Semangat  itu..
Akan terpendam
Andai tiada lesinambungan perjuangan

Kami bangga...
Walau hanya pendengar cerita
Menjadi lagenda di suatuasa

Kami bangga
Walau kami takut....
Akan kacakan setiap sungai
Tersimpan misteri sendiri

Tahniah....
Anak saribas..

Nota. Tahniah pada penganjur pesta bungim.
           Tahniah pada peserta.
           Tahniah pada penonton
           Tahniah pada siapa yang terlibat.

11032018

Nukilan Daud Ahmad

Friday, 5 January 2018

IBU

IBU
Namoku Payjai

Ibu...
Ingin  aku memelukmu
Ingin ku lafazkan sayang
Inginku ucapkan terima kasih
Walau ku sering membuatmu sedih
Cinta dan kasih sayangmu tetap utuh
Buat anakmu

Ibu...
Maafi anakmu ampuni dosa anakmu
Di atas kesalahanku
Tidak pernah buatmu membenciku
Begitu tabah dan sabarnya dirimu
Melayani kerenah anakmu

Ibu...
Dalam dunia penuh dugaan dan cabaran
Menghadapi liku dan kesulitan hidup
Engkau mengajariku
Berjuang untuk terus hidup

Ibu...
Tidak ada galang gantinya
Tidak ada yang bisa menandingimu
Tidakku bisa membalas segala jasa budimu
Keranamu sungguh mulia
Kerana dirimu sungguh murni
Insan agung dan teragung bagiku
Engkaulah Ibuku
Terima kasih ibu

Namoku Payjai
Ibuku Hjh Rafiah bt Hj Adenan
05 Disember 2018, Jumaat

SUNGAI RIMBAS, BUAYAMU KIAN MENGGANAS! ( DALAM MENGENANG MANGSA KE-4)

Sungai Rimbas, buayamu kian mengganas!
(dlm mengenang mangsa ke-4)
_____________
Cikgu Justi Amban

Tangis pecah lagi
di laman daerah terpencil ini
satu demi satu
direntapnya
lemas dan hilang di bawah arus
dan nantinya tahlilan bersambung lagi

Sungai Rimbas
yang dulu cukup mesra
dengan udang dan baung
berisi manis
dengan sembilang dan bulu
lemak dan lembut
kini sungai ini
bagai lubuk yang ngeri
si bedal timbul sesukanya
menunggu mangsa
yang terleka.

Siapakah yang seterusnya
direntap ke dasarmu?

hja
serambipuisi
050118saratok.

Nukilan : cikgu Justi Amban

Wednesday, 27 December 2017

AYAH...

AYAH...
Namoku Payjai

Walau apapun jua panggilan untukmu
Makna dan pengertiannya tetap sama
Menyimpan beban tetap tenang
Punya tanggungjawab besar digalas
Tak pernah merungut tak pernah mengeluh
Demi keluarga yang tersayang

Garis-garis di wajah ayah
Betapa gambaran jerih pedih dirinya
Lukisan potret hidupnya dalam susah dan senang
Demi menjaga ego dirinya

Pada diri seorang Ayah
Keluarga adalah kehidupannya
Hidup susah bukan kemahuan
Kesenangan dan kejayaan anak jadi keutamaan

Di dalam kerut wajah ayah
Ada luka yang sembuh berparut
Ada hati yang terkilan tersembunyi
Ada kisah hitam dipadam dari memori

Ayah kau tetap gagah
Walau besar ombak dan onak
Walau terkadang tersungkur jua
Tetap terus berusaha
Berdiri dan bangkit semula
Demi siapa?
Demi anak isteri yang tercinta.

Sajak Untuk Ayahnda Hj Jabat Bin Jahiri
#NamokuPayjai

#SelamatHariBapa

KAMPUNGKU...

KAMPUNGKU...

Namoku Payjai

Tanah keramat kelahiran
Tempat mengenal banyak perkara
Tempat belajar permulaan di dunia
Tempat menjiwai kehidupan manusia
Berpisah terpaksa dilupakan jangan
Kerna hidup baru saja bermula

Kampungku...
Kini mu jauh dari pangkuan
Bersedih hati sudahlah tentu
Kerna apa yang ingin ku kerjakan
Demi hidup bukan kesenangan
Kita berpisah itu tuntutan
Bertemu bila berkesempatan

Kampungku...
Sedikit aku kesalkan
Kita tidak seakrab dimula kehidupan
Sahabat-sahabat kita abaikan
Membuka lebaran selebar kemahuan
Rezeki luas di segenab hamparan
Di situ menetap teruskan pengharapan

Kampungku...
Jodoh kita tak la ke mana
Tanah tercinta sehingga roh terpisah dari badan
Kau tetap di hati juga di fikiran
Walau emas di negerinya orang
Batu juga yang diinginkan
Kerna azalinya kita sudah ditentukan
Kekal hingga pengakhiran
Tanahmu jua tempat bersemanyam
Jasadku kelak engkau simpan
Bersemadi aman bersama selamanya

Kampungku...
Kisah kita bukan dongengan
Buat cerita penyambung warisan
Zaman berzaman dalam ingatan
Tetaplah kita generasi sungai lautan dan hutan
Asal usul dilupakan jangan
Sebagai sempadan supaya tetap dilandasan
Orang kampung dulu dan juga sekarang
Kampung nan indah dicemburui orang
Kampung Beladin Kampung Nelayan
Kekal begitu harus begitu
Sudahlah indah bertuah lagi...

Kampong Beladin, Pusa
#NamokuPayjai

Tuesday, 26 December 2017

PANCA INDERA

PANCA INDERA
Namoku Payjai

Punya persepsi yang berbeda
Punya jawapan yang bermacam juga
Penilaian ikut jiwa
Penilaian ikut rasa
Penilaian atas kewarasan minda
Akal juga lebih berguna
Membaca lukisan senja
Mencorak potret ukiran rasa

Panca indera...
Tidak semua yang merasa anugerahnya
Di sia jangan
Di beban jangan
Kerna nikmat Tuhan
Untuk  menabur kebaikan insan

Panca indera...
Punya harga atasi intan belian
Hilang gelapkan seluruh alam
Aman jiwa bertukar gelora
Waras hilang pertimbangan pula
Hakikat sukar diterima
Normal jadi kurang upaya

Panca indera...
Nikmatnya ternilai rahmat tak terhingga
Kepada insan seperti kita
Manusia biasa kerdil cuma
Di sisi Tuhan Yang Maha Esa

Panca indera...
Lihatlah dunia ciptaan-Nya
Indah tidak terkata
Terkelu lidah menatap hiba
Hina terbit di senja kala
Terbenam mentari mengelapkan mata
Tak mampu kita menahannya
Tiada kuasa mampu menandingi
Azali kejadian ketentuan Tuhan

Panca indera...
Tataplah seluas pandangan
Semahu rasa ungkapan keindahan
Itu kejadian Tuhan
Untuk kita penghuni alam
Berkesempatan selagi diizinkan
Entah bila dijemput Tuhan
Siapkan bekalan sebelum pergi
Abadi kita di alam sana
Mudahan selamat aman dan bahagia
Kerna bekalan yang sudah disedia...

Pantai Tanjung Batu Bintulu, Bintulu
#NamokuPayjai
[24/12, 9:47 pm] Bg Pejai: Ayah...

Walau apapun jua panggilan untukmu
Makna dan pengertiannya tetap sama
Menyimpan beban tetap tenang
Punya tanggungjawab besar digalas
Tak pernah merungut tak pernah mengeluh
Demi keluarga yang tersayang

Garis-garis di wajah ayah
Betapa gambaran jerih pedih dirinya
Lukisan potret hidupnya dalam susah dan senang
Demi menjaga ego dirinya

Pada diri seorang Ayah
Keluarga adalah kehidupannya
Hidup susah bukan kemahuan
Kesenangan dan kejayaan anak jadi keutamaan

Di dalam kerut wajah ayah
Ada luka yang sembuh berparut
Ada hati yang terkilan tersembunyi
Ada kisah hitam dipadam dari memori

Ayah kau tetap gagah
Walau besar ombak dan onak
Walau terkadang tersungkur jua
Tetap terus berusaha
Berdiri dan bangkit semula
Demi siapa?
Demi anak isteri yang tercinta.

Sajak Untuk Ayahnda Hj Jabat Bin Jahiri

#NamokuPayjai
#SelamatHariBapa

Thursday, 21 December 2017

TUNGGAL

TUNGGAL
Nukilan Namoku Payjai

Aku hanyalah seorang manusia biasa
Dilahirkan tanpa mempunyai saudara (tunggal)
Jikalau datang masalah dan kesulitan,
aku tak tau ke mana akan ku curahkan
Kerana aku tak punya saudara (tunggal)
Jadi kuhadamkan semuanya
Bagai pasir jelus menelan mangsa

Sampai detik ini aku kegusaran
Jikalau orang tua ku mengadap Ilahi
Siapa yg akan menemani keseharianku???
Kerana tanpa ada keduanya ,rumah dan keseluruhan jiwa pasti terasa sepi

Tapi aku bersyukur dilahir sebagai tunggal
Kerana...
Perhatian orang tua hanya untukku
Orang tua ku lah menjadi sahabat ku
Sampaiku pergi mengadap ilahi sekalipun
Keduanya tetap orang tuaku sampai alam sana
Tidak akan kuganti dengan yang lain

Terima kasih ibu
Terima kasih ayah
Atas apa yg telah kalian lakukan untuk kebaikan ku
Dalam setiap doa anakmu ini
Tak lekang kusebut namamu berdua
Tu saja termampu
Tu saja terdaya
Ku balaskan kebaikan budi dan jasa
Sebagai anak terhadap orang tuanya
Akulah si Tunggal tanpa saudara.

19 Disember 2017, Selasa
Bintulu

Nukilan
Namoku Payjai

Tuesday, 19 December 2017

SURATAN

SURATAN
Namoku Payjai

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan
Ada yg datang ada juga yg pergi
Kawan sentiasa silih berganti
Yang pasti tak sama sebagai  pganti
Yang lama juga yang dicari...

Perpisahan tak perlu dicari
Tidak juga diingini
Namun tetap akan terjadi
Tak kira masa & juga waktu
Jika itu sudah dijanji...

Yang ditinggal merasa hiba
Yang pergi pula merasa pilu
Selebihnya mengharap sinar
Sesudah tragedi
Pastikah kita akan bersua lagi. ..

Airmata tidak mampu disembunyi
Mengalir laju membasahi pipi
Segala kenangan menerjah jiwa
Membuat perasaan menjadi  hiba
Kerana persahabatan tidak menjanjikan derita...

Kesatkan saja airmatamu
Wahai sahabat berjiwa lara
Yang merancang itu adalah kita
Tapi Tuhan jua yang menentukan segalanya
Itu sudah suratan takdirnya
Kita terpaksa berpisah jua...sahabatku
Kerna setiap pertemuan pasti akan ada titik perpisahannya.

19 Disember 2017
Nukilan Asal: Namoku Payjai

Friday, 17 November 2017

JAMBATAN KASIH TANDANG SARI

JAMBATAN KASIH TANDANG SARI

Santai....
Pada saat hening senja
Meriah suasana
Seolah pesta tiada acara
Meraikan kemegahannya

Jambatan kasih ini
Ibarat pita pengukur
Pada daerah sepi Pusa
Sedangkan
Sekelilingnya
Imigrasi bertandang
Mengisi ruang rezeki

Jambatan kasih ini...
Mengorak sedikit langkah
Meringkas waktu
Memenuh kantung
Pada yang memiliki...

Pada yang di atas
Dapat melipat
Segumpal kertas
Tinggi nilainya

Jambatan kasih ini
Mulakanlah....
Bakti mu....
Dalam merentangi sungai rimbas
Cukup bermakna pada sekeliannya

Terima kasih....
Walau engkau tiada mengerti
Konkrit yang dibina
Bersama bijih besi... Dicantum
Dapat memupok...
Kasih kami yang hilang
Sayang kami....
Bertambah utuh...
Semangat kami bertambah teguh

Terima kasih....
Kasih mu sesama ini
Hanya fana

17 November 2017

Nukilan : Daud Ahmad